poto nih
acongkwok
haihaihai.... selamat datang di blog pertamaku, sebenernya ga pertama2 amat sih, yang sbelumnya jelek bgt jadi aku hapus aja. kalo masih ada yang salah2 atau layoutnya masih jelek, gitu2 aja harap dimaklumi yah.... oh iya jangan lupa tuh diisi commentnya
Jumat, 31 Agustus 2007
Kamis, 30 Agustus 2007
Manusia lahir, tumbuh, dan dewasa. Semua orang pasti atau akan mangalami hal itu. Setiap manusia pun memiliki nilai yang sama dengan yang lainnya, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Sejauh ini semua orang pasti setuju dengan pernyataan tersebut, namun pada kenyataannya masih banyak sekali terjadi pembedaan atau pengkotak-kotakan di dunia ini. Dari perbedaan kelas sosial, agama, ras, umur, bahkan pendidikan. Hal ini lebih dikenal dengan nama diskriminasi.
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan kumpulan yang diwakili oleh individu berkenaan. Diskriminasi merupakan suatu amalan yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia. Bentuknya adalah kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan manusia.
Orang yang melakukan tindak diskriminasi cenderung merendahkan orang lain yang "berbeda dunia" dengannya. Dalam dunia pendidikan misalnya, anak yang masuk program IPA berpotensi mendiskriminasi anak IPS atau bahasa, mereka menganggap semua ilmu yang diberikan di program tersebut "enteng", ga pasti, ga penting, atau hal-hal yang merendahkan lainnya.
Memang dalam ilmu IPA semua hal yang dipelajari harus pasti, jika a maka b, 1+1=2. Mungkin karena itu dulu IPA dinamakan ilmu pasti. Sedangkan dalam ilmu sosial atau bahasa tidak ada nilai yang bersifat mutlak seperti itu. Namun alasan tersebut tidak cukup kuat untuk dapat merendahkan ilmu yang dipelajari oleh orang lain. Bila seseorang memiliki pengertian (understanding) atau sikap (attitude) tertentu, yang diperolehnya melalui pendidikan dan pengalaman sendiri, maka oleh banyak orang dianggap yang bersangkutan tahu atau berpengetahuan. Begitu juga bila seseorang memiliki ketrampilan atau ketangkasan (aptitude) yang diperolehnya melalui latihan dan praktek, maka kemampuan tersebut disebut kebiasaan atau keahlian. Namun keahlian atau kebiasaan ini, sekalipun karena keterbiasaan melakukan sesuatu, juga karena yang bersangkutan sebelumnya tahu itu adalah tahu mengerjakan (know to do), tahu bagaimana (know how) dan tahu mengapa (know why) sesuatu itu. Jadi sekalipun menurut Peter Drucker (The Effective Executive), kebiasaan yang berurat berakar yang tanpa dipikirkan (in thinking habit) telah menjadi kondisi tak sadar (reflex condition), tetap sebelumnya harus merupakan pengetahuan yang dipelajari dan dibiasakan. Tetapi E.J. Gladden dalam bukunya “The Essentials of Public Administration” menganggap ilmu sama dengan ketrampilan, hanya ketrampilan diperoleh melalui latihan dan belajar. Sekarang sebenarnya dimana letaknya ilmu ?
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan
Untuk itu ada syarat-syarat yang ilmu (Science) yaitu sbb: Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirdjo, Administrasi dan Management Umum 1982, Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas. Menurut Prof. Dr. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial 1985, Ilmu juga harus memiliki obyek, metode, sistimatika dan mesti bersifat universal. Menurut Prof. Dr. Sondang Siagian, Filsafat Administrasi 1985 : Ilmu pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus yang melalui percobaan yang sistimatis dilakukan berulang kali telah teruji kebenarannya, prinsip-prinsip, dalil-dalil dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari. Menurut Prof. Drs. Sutrisno Hadi, Metodologi Reserach 1 1969 : Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman -pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan yang teratur. Dari pendapat2 diatas terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu kongkrit sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan secara teratur, teruji, bersifat khas atau khusus, dalam arti mempunyai metodologi, obyek, sistimatika dan teori sendiri.
Oleh sebab itu tidak ada ilmu yang lebih superior daripada ilmu yang lain, karena suatu ilmu mempunyai landasan dan syarat yang universal. Seandainya setiap orang tahu betapa susahnya apa yang dikerjakan orang lain seharusnya diskriminasibtidak pernah terjadi, bukan hanya dalam ilmu atau pendidikan namun juga bentuk-bentuk lainnya
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan kumpulan yang diwakili oleh individu berkenaan. Diskriminasi merupakan suatu amalan yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia. Bentuknya adalah kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan manusia.
Orang yang melakukan tindak diskriminasi cenderung merendahkan orang lain yang "berbeda dunia" dengannya. Dalam dunia pendidikan misalnya, anak yang masuk program IPA berpotensi mendiskriminasi anak IPS atau bahasa, mereka menganggap semua ilmu yang diberikan di program tersebut "enteng", ga pasti, ga penting, atau hal-hal yang merendahkan lainnya.
Memang dalam ilmu IPA semua hal yang dipelajari harus pasti, jika a maka b, 1+1=2. Mungkin karena itu dulu IPA dinamakan ilmu pasti. Sedangkan dalam ilmu sosial atau bahasa tidak ada nilai yang bersifat mutlak seperti itu. Namun alasan tersebut tidak cukup kuat untuk dapat merendahkan ilmu yang dipelajari oleh orang lain. Bila seseorang memiliki pengertian (understanding) atau sikap (attitude) tertentu, yang diperolehnya melalui pendidikan dan pengalaman sendiri, maka oleh banyak orang dianggap yang bersangkutan tahu atau berpengetahuan. Begitu juga bila seseorang memiliki ketrampilan atau ketangkasan (aptitude) yang diperolehnya melalui latihan dan praktek, maka kemampuan tersebut disebut kebiasaan atau keahlian. Namun keahlian atau kebiasaan ini, sekalipun karena keterbiasaan melakukan sesuatu, juga karena yang bersangkutan sebelumnya tahu itu adalah tahu mengerjakan (know to do), tahu bagaimana (know how) dan tahu mengapa (know why) sesuatu itu. Jadi sekalipun menurut Peter Drucker (The Effective Executive), kebiasaan yang berurat berakar yang tanpa dipikirkan (in thinking habit) telah menjadi kondisi tak sadar (reflex condition), tetap sebelumnya harus merupakan pengetahuan yang dipelajari dan dibiasakan. Tetapi E.J. Gladden dalam bukunya “The Essentials of Public Administration” menganggap ilmu sama dengan ketrampilan, hanya ketrampilan diperoleh melalui latihan dan belajar. Sekarang sebenarnya dimana letaknya ilmu ?
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan
Untuk itu ada syarat-syarat yang ilmu (Science) yaitu sbb: Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirdjo, Administrasi dan Management Umum 1982, Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas. Menurut Prof. Dr. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial 1985, Ilmu juga harus memiliki obyek, metode, sistimatika dan mesti bersifat universal. Menurut Prof. Dr. Sondang Siagian, Filsafat Administrasi 1985 : Ilmu pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus yang melalui percobaan yang sistimatis dilakukan berulang kali telah teruji kebenarannya, prinsip-prinsip, dalil-dalil dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari. Menurut Prof. Drs. Sutrisno Hadi, Metodologi Reserach 1 1969 : Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman -pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan yang teratur. Dari pendapat2 diatas terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu kongkrit sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan secara teratur, teruji, bersifat khas atau khusus, dalam arti mempunyai metodologi, obyek, sistimatika dan teori sendiri.
Oleh sebab itu tidak ada ilmu yang lebih superior daripada ilmu yang lain, karena suatu ilmu mempunyai landasan dan syarat yang universal. Seandainya setiap orang tahu betapa susahnya apa yang dikerjakan orang lain seharusnya diskriminasibtidak pernah terjadi, bukan hanya dalam ilmu atau pendidikan namun juga bentuk-bentuk lainnya
Langgan:
Entri (Atom)